Tampilkan postingan dengan label Manajemen kesiswaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen kesiswaan. Tampilkan semua postingan

5.17.2009

Manajemen Kesiswaan (Peserta Didik)

Secara sosiologis, peserta didik mempunyai kesamaan- kesamaan. Kesamaan-kesamaan itu dapat ditangkap dari kenyataan bahwa mereka sama-sama anak manusia, dan oleh karena itu mempunyai kesamaan-kesamaan unsur kemanusiaan. Fakta menunjukkan bahwa tidak ada anak yang lebih manusiawi dibandingkan dengan anak lainnya; dan tidak anak yang kurang manusia dibandingkan dengan anak yang lainnya. Adanya kesamaan- kesamaan yang dipunyai anak inilah yang melahirkan kensekuensi samanya hak-hak yang mereka punyai. Di antara hak-hak tersebut, yang juga tidak kalah pentingnya adalah hak untuk mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu. Samanya hak-hak yang dimiliki oleh anak itulah, yang kemudian melahirkan layanan pendidikan yang sama melalui sistem persekolahan (schooling). Dalam sistem demikian, layanan yang diberikan diaksentuasikan kepada kesamaan-kesamaan yang dipunyai oleh anak. Pendidikan melalui sistem schooling dalam realitasnya memang lebih bersifat massal ketimbang bersifat individual. Keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh sistem schooling memang lebih memberi porsi bagi layanan atas kesamaan dibandingkan layanan atas perbedaan. Sungguhpun demikian, layanan yang lebih diaksentuasikan kepada kesamaan anak ini, kemudian digugat. Gugatan demikian, berkaitan erat dengan pandangan psikologis mengenai anak. Sungguhpun anak-anak manusia tersebut diyakini mempunyai kesamaan-kesamaan, ternyata jika dilihat lebih jauh sebenarnya berbeda. Pandangan ini kemudian menunjukkan bukti-bukti yang meyakinkan, bahwa di dunia ini tak ada dua anak atau lebih yang benar-benar sama. Dua anak atau lebih yang kelihatan samapun, misalnya saja si kembar, pada hakekatnya adalah berbeda. Oleh karena berbeda, maka mereka membutuhkan layanan-layanan pendidikan yang berbeda. Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sistem schooling tersebut dipertanyakan, dan sebagai responsinya kemudian diselipkan layanan-layanan yang berbeda pada sistem schooling tersebut. Ada dua tuntutan, yakni aksentuasi pada layanan kesamaan dan perbedaan anak itulah, yang melahirkan pemikiran pentingnya pengaturan. Manajemen peserta didik, adalah kegiatan yang bermaksud untuk mengatur bagaimana agar tuntutan dua macam layanan tersebut dapat dipenuhi di sekolah. Baik layanan yang teraksentuasi pada kesamaan maupun padaperbedaan peserta didik, sama-sama diarahkan agar peserta didik berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya. Sebagai akibat dari adanya perbedaan bawaan peserta didik, maka akan ada peserta didik yang lambat dan ada peserta didik yang cepat perkembangannya. Kompetisi yang sehat akan memungkinkan jika ada usaha dan kegiatan manajemen, ialah manajemen peserta didik. Demikian juga peserta didik yang bermasalah sebagai akibat dari adanya kompetisi akan dapat ditangani dengan baik manakala manajemen peserta didik-nya baik. Dalam upaya mengembangkan diri tersebut, ada banyak kebutuhan yang sering kali tarik-menarik dalam hal pemenuhan pemrioritasnnya. Di satu sisi, para peserta didik ingin sukses dalam hal prestasi akademiknya, di sisi lain, ia ingin sukses dalam hal sosialisasi dengan sebayanya. Bahkan tidak itu saja, dalam hal mengejar keduanya, ia ingin senantiasa berada dalam keadaan sejahtera. Pilihan-pilihan yang tepat atas ketiga hal yang sama-sama menarik tersebut, tidak jarang menimbulkan masalah bagi para peserta didik. Oleh karena itu diperlukan layanan tertentu yang dikelola dengan baik. Manajemen peserta didik berupaya mengisi kebutuhan tersebut.

sumber : http://72.14.235.132/search?q=cache:0xy5G47G8hoJ:modultotkepsek.fileave.com

5.16.2009

Pentingnya Administrasi Kesiswaan di Sekolah Dasar

Administrasi bidang kesiswaan mencakup ruang lingkup pencatatan data dan pelaporan. Ditinjau dari segi pembinaan maupun segi penertiban administrasi, masalah pencatatan data dan pelaporan ini sangat penting. Keduanya sama penting dan saling berkaitan, dan untuk itu perlu disediakan format-format untuk menunjang pencatatan dan pelaporan tersebut.
Khusus dalam bidang adminitrasi kesiswaan, Kepala Sekolah bertanggungjawab atas
terlaksananya kegiatan :
1. Penerimaan siswa baru

2. Pengelompokan siswa

3. Kehadiran dan ketidak hadiran siswa di sekolah

4. Penilaian kemajuan siswa

5. Laporan kemajuan siswa

6. Naik tidaknya siswa

7. Bimbingan kepada siswa

8. Pelayanan kesehatan siswa

9. Mutasi siswa

Data dan informasi yang yang menggambarkan pertumbuhan dan perkembangan siswa baik perorangan maupun kelompok perlu dihimpun, dicatat dan diperlihara secara cermat dan teratur, sejak pertama kali siswa terdaftar di sekolah sampai siswa tersebut meninggalkan sekolah. Rangkaian kegiatan menghimpun, mencatat dan memelihara data informasi mengenai siswa termasuk dalam bidang pelayanan ketata-usahaan sekolah. Rangkaian kegiatan ini tidak selamanya dikerjakan Kepala Sekolah tetapi ia melimpahkan sebagian pekerjaan ketata-usahaan kepada guru kelas dan pegawai tata usaha. Ikut sertanya guru kelas dalam hal mengerjakan urusan administrasi sekolah secara keseluruhan adalah wajar, karena adminitrasi kelas merupakan bagian yang tak terpisahkan daripada administrasi sekolah. Dengan demikian guru kelas tidak dapat “melepaskan diri” dari urusan administrasi kelas dan sekolah, karena seorang guru sekolah dasar, pada hakekatnya adalah seorang “administrator pendidikan”. Yang membedakan seorang guru kelas dengan petugas-petugas sekolah dasar yang lebih tinggi, hanya semata-mata tertentu pada soal luas bidang tugas yang dihadapinya. Berdasarkan uraian di atas, maka kepala sekolah dan guru kelas bersama-sama petugas ketatausahaan memikul tanggungjawab dalam hal mengurusi adminitrasi kemuridan khususnya dalam menghimpun, mencatat, memelihara data/atau informasi seluruh aspek perkembangan siswa.


Buntut Konflik Internal, Siswa Belum Terima Ijazah

Jumat, 18 Juli 2008 | 22:06 WIB

SOLO, JUMAT - Para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 Cokroaminoto, Solo menggelar unjuk rasa di depan sekolah mereka, Jumat (18/7). Para siswa yang baru saja lulus kelas tiga ini menuntut agar ijazah mereka segera diberikan.

Koordinator unjuk rasa siswa, Andri Nuryanto, mengungkapkan siswa merasa dirugikan karena sekolah tidak kunjung memberikan ijazah sehingga mereka kesulitan saat hendak melamar pekerjaan atau melanjutkan pendidikan. Total, ada 51 siswa yang belum menerima ijazah kelulusannya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK 1 Cokroaminoto, Teguh Wiyono mengatakan, ijazah akan dibagikan ke siswa pada hari Sabtu (19/7). Keterlambatan penyerahan ijazah kepada siswa disebabkan kondisi internal yayasan pascameninggalnya kepala sekolah terdahulu, Soeprapto.

Tidak Boleh Ada Perpeloncoan Siswa Baru

Kamis, 10 Juli 2008 | 20:43 WIB

BANDUNG, KAMIS - Kegiatan belajar mengajar di tahun ajaran baru 2008/2009 dimulai serentak, Senin (14/7) mendatang. Di masa pengenalan sekolah, dilarang adanya praktik-praktik perpeloncoan. Sekolah pun diwajibkan melakukan pembinaan terhadap organisasi siswa untuk menghindarkan praktik negatif ini.

Kegiatan pengenalan yang biasanya diberi nama masa orientasi sekolah pun mulai tahun ini diganti menjadi Masa Perkenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sesuai dengan namanya, kegiatan lebih diarahkan untuk mengenalkan siswa dengan lingkungan sekolah mulai dari program, budaya, hingga kurikulum pembelajarannya.

Dikenalkan pula strategi pembelajaran yang efektif di sekolah. "Perpeloncoan itu dilarang," ujar Kepala SMAN 2 Kota Bandung, Teddy Hidayat, Kamis (10/7). Kegiatan MPLS ini pun hanya berlangsung singkat, yaitu dua hari, berturut-turut Senin (14/7) dan Selasa (15/7). Ini diatur di dalam Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Nomor 421.7/530-PSMTH/2008.

Yang lebih positif, kegiatan latihan kepemimpinan siswa pun ikut dimasukkan di dalam rangkaian MPLS ini. Tepatnya, mulai 16-19 Juli ini. Menurutnya, kegiatan macam ini akan lebih bermanfaat bagi siswa. Sebab, materi pengenalan lingkungan sekolah yang disampaikan nantinya bisa menjadi bekal strategi siswa untuk berhasil dalam belajar.

Menyinggung soal potensi munculnya praktik perpeloncoan di sekolah, Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMAN 5 Kota Bandung, Rahmat Effendi mengungkapkan, itu bisa dihindari lewat pembinaan dan sosialisasi memadai kepada para siswa senior di kelas XI dan XII. Ia optimis, di sekolahnya tahun ini tidak akan muncul perpeloncoan. Apalagi, sejak tahun-tahun sebelumnya, praktik negatif ini telah dilarang.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA se-Kota Bandung, Ajat Sudrajat mengungkapkan, antisipasi praktik perpeloncoan telah menjadi perhatian serius bersama para kepala sekolah. "Kepala-kepala sekolah dan para pembina kesiswaaan telah berkumpul dua hari lalu untuk membicarakan ini (MPLS). Dalam rapat ditegaskan lagi tidak boleh ada perpeloncoan," ujarnya.

Ajat menjelaskan, para pembimbing pun telah diarahkan untuk melakukan kontrol pembinaan kepada siswa selama kegiatan MPLS berlangsung. "Yang dibolehkan adalah penegakan disiplin. Bukan perpeloncoan," ucapnya kemudian. "Jika ditemui perpeloncoan oleh siswa, maka yang bersangkutan bisa dikenai sanksi pembinaan. Namun, masih dalam konteks yang edukatif," sambungnya.

Perilaku agresif

Sri Rahayu Astuti, psikolog perkembangan remaja dari Universitas Padjadjaran, mengatakan, pada prinsipnya, usia remaja seperti siswa tingkat SMA berpotensi memiliki perilaku agresif. Perilaku yang mengarah intimidasi ke orang lain ini potensial muncul di perpeloncoan.

"Perilaku agresif ini tidak hanya dalam bentuk fisik misal kekerasan, melainkan juga verbal macam kata-kata ejekan," katanya. Risiko perilaku agresif siswa lebih senior ini makin tinggi mengingat usia remaja adalah fase pengenalan diri dan emosi. Cara yang efektif mengatasi pesoalan ini adalah melalui bimbingan intensif dari orang dewasa.

sumber : kompas - joni

Memacu Mutu lewat MDC

Secara strategis lembaga ini lahir sebagai jawaban terhadap peingkatan kualitas madrasah dan pondok pesantren. Madarasah dan pondok pesantren di wilayah Jawa Tengah (Jateng) tengah ‘bersolek’. Lembaga pendidikan Islam di daerah itu kini dipacu untuk meningkatkan mutu dalam upaya membangun budaya kreatif dan mengembangkan gagasan cerdas sehingga dapat berkompetisi, baik di tingkat lokal mau pun global. Upaya tersebut diwujudkan dengan membentuk Madrasah Deve lop ment Centre (MDC) atau pusat pengembangan madrasah.

Secara strategis, lembaga ini lahir sebagai jawaban terhadap peningkatan kualitas mad rasah dan pondok pesantren yang merupakan bagian dari Sistem Pendidikan Nasional. Ini sekaligus sebagai realisasi dari Surat Keputusan (SK) Dirjen Kelembagaan Agama Islam No. DJ.II/281A/02 dan SK Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Jawa Tengah tahun 2005.

Dalam pelaksanaannya, MDC Jateng merupakan mitra bagi bidang pendidikan dan pengembangan Sumber Daya Manusia SDM) yang memiliki atau berminat pada pro gram-program sejalan. Posisi strategis MDC adalah lembaga pemikir semi otonom dan non-struktural di bawah lingkungan Kanwil Depag setempat. Tugas utamanya menjalankan salah satu fungsi penelitian dan pengembangan untuk peningkatan kualitas madrasah dan pesantren.

Lembaga ini dimaksudkan untuk menawarkan model paradigma pendidikan madrasah yang berorientasi pada terwujudnya masyarakat madani melalui upaya membangun budaya kreatif dan inovatif serta mem bantu mengembangkan eksperimentasi pendidikan madrasah dan pesantren di daerah itu. Dalam mengemban komitmen kependidikan, MDC Jateng mempersiapkan perangkat kelembagaan, program dan sumber daya manusia berkualitas dengan menyusun excellent team, supervisor, dan konsultan ahli pendidikan yang qualified dan berpengalaman. Visi yang diemban adalah menjadikan madrasah dan pesantren sebagai lembaga yang berkualitas, mandiri dan unggul. Misinya, menjabarkan ketetapan pusat (Depag) tentang pengembangan madrasah dan pesantren dalam berbagai aspek agar pelaksanaannya sesuai dengan kondisi dan

kebutuhan daerah; merumuskan konsep dan aplikasi tentang pengembangan guru dan tenaga kependidikan yang berkualitas untuk madrasah dan pesantren; merumuskan konsep dan aplikasi tentang pengembangan kurikulum yang menyangkut tujuan, isi/bahan, me todologi, media, dan evaluasi; serta supervisi untuk peningkatan kualitas madrasah dan pesantren.

Selain itu, merumuskan konsep dan aplikasi tentang pengembangan pemberdayaan dan partisipasi masyarakat serta kesiswaan untuk peningkatan kualitas madrasah dan pesantren. Hal yang sama dilakukan untuk pengembangan sarana dan prasarana serta menginformasikan dan mengadvoka- sikan perkembangan madrasah dan pesantren dalam berbagai aspek berdasarkan kondisi dan kebutuhan daerah.

Strategi Pengembangan
Berdasarkan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam Pedoman Umum tentang MDC dan SK Dirjen Kelembagaan Agama Islam Tahun 2002, maka MDC memiliki tugas meng kaji ketetapan pusat yang akan dilaksanakan berdasarkan kondisi dan kebutuhan daerah. Ini meliputi mengembangkan konsep, mengujicoba- kan, merekomendasikan kebijakan tindak lanjut dalam peningkatan kualitas madrasah dan pesantren dari aspek kelembagaan, guru dan tenaga supervisi, serta akreditasi, partisipasi ma syarakat dan kesiswaan, sarana dan prasarana, pembiayaan berdasarkan kondisi dan kebutuhan daerah. Juga mencatat, mengolah dan menginformasikan data serta mengadvokasi tentang kemadrasahan dan kepesantrenan.

Fungsi pusat pengembangan MDC meliputi pengkajian ketetapan dari pemerintah pusat tentang madrasah dan pesantren dalam berbagai aspek sehing ga dapat dilaksanakan di daerah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah; perumusan konsep dan pengujicobaan serta tindak lanjut pengembangan guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk madrasah dan pesantren; perumusan konsep dan pengujico baan serta tindak lanjut pengembang an kurikulum (tujuan, isi/bahan, metodologi, media, evaluasi) pada madrasah dan pesantren; dan pe ru- mus an konsep dan pengujicobaan serta tindak lanjut pengembangan bentuk, jenis, jumlah sarana dan prasarana pada madrasah dan pesantren.

Strategi yang ditempuh dalam pengelolaan MDC terdiri atas segmentasi prioritas sasaran dengan lebih mengarahkan pada hal-hal yang lebih mudah dicapai pada level siswa dan kelas pada madrasah dan pesantren, serta kajian ketetapan pusat tentang madrasah dan pesantren sehingga dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. Segmentasi prioritas sasaran pada level konteks adalah pengembangan kurikulum madrasah dan pesantren yang berciri khas ke- Islaman, termasuk supervisi dan akreditasi.

Segmentasi prirotas lainnya adalah pembinaan kelembagaan MDC, baik dari segi pengelolaan, kelembagaan, dan personalia; peningkatan koordinasi dan keterlibatan intelektual, cendekiawan, LSM yang memiliki kepedulian di bidang pendidikan, madrasah dan pesantren pada khususnya; peningkatan koordinasi dan kerja sama dengan institusi fungsional di lingkungan Depag, khususnya yang bergerak dalam bidang penelitian, kemadrasahan dan pesantren; peningkatan kerjasama dengan Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta yang berminat dalam bidang madrasah dan pesantren; penggalian sumber dana dari berbagai pihak baik pemerintah, swasta, perseorangan, yayasan dan bantuan luar negeri yang tidak mengikat dalam rangka pengembangan madrasah dan pesantren. Bersamaan dengan itu, pengumpulan, pengolahan dan penyebarluasan fakta, data dan informasi serta advokasi kepada masyarakat lebih diintensifkan.

Dengan luas dan kompleksnya tugas fungsi dan strategi pengelolaan dan tanggungjawab yang harus diembannya, maka MDC harus ditunjang oleh suatu bentuk organisasi formal yang kuat, mampu secara operasional melayani segala kegiatan kajian, perumusan konsep dan pengembangan yang harus dilakukannya. Sesuai panduan umum pengelolaan MDC, organisasi dibantu tim pengarah sesuai dengan kapasitas, wawasan pengetahuan dan keilmuan terkait dengan bidang pendidikan.

Program yang telah dan sedang dilaksanakan antara lain Training of Trainer (TOT) pembuatan dan pemanfaatan media pembelajaran MIPA bagi guru pamong KKG MI, pada April- September 2007 bekerja sama dengan Learning Assistance Program for Islamic School (LAPIS)AusAID, penerbitan buku Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Konsep dan Implemen tasinya di Madrasah bekerja sama penerbit Pilar Media Jogjakarta, dan menjadi mitra utama Madrasah Education Development Project (MEDP) Depag. Program-program itu bermuara pada peningkatan kualitas lembaga pendidikan Islam di Jawa Tengah. ?
wildan hasan syadlili, sekretaris CPMU MEDP

sumber : republika newsroom

4.15.2009

Makin Serius Makin Peduli Lingkungan

Jumat, 11 April 2008 | 09:26 WIB

Begitu nama tim mereka disebut sebagai Juara I Toyota Eco Youth 3, lima cewek dari SMA Semen Gresik, Gresik, Jawa Timur, langsung berteriak sejadinya. Mereka berhak mendapat hadiah Rp 75 juta... huhuhu mengharukan, menggiurkan, juga bikin iri....

Kelima cewek itu adalah Novi Fatmasari (kelas XI IPA1), Rosa Oktaria (kelas XI IPA1), Rama Ayunastiti (kelas XI IPA5), Astri Ika (kelas XI IPA5), Yudhita (kelas XI IPA4), dan Nurminati (kelas XI IPA4).

”Wow... senang sekali... tak menyangka bisa menang,” kata Novi.

Juara kedua diraih SMAN 8 Pekanbaru yang berhak atas hadiah Rp 45 juta. Juara ketiga diraih SMKN 2 Palembang dengan hadiah Rp 20 juta. Pemenang Harapan I yang hadiahnya Rp 10 juta disabet SMKN 3 Madiun, pemenang Harapan II dengan Rp 7,5 juta diraih SMAN 6 Banjarmasin.

Hadiah itu diberikan untuk membantu pengadaan berbagai peralatan atau fasilitas yang menunjang kegiatan siswa di sekolah.

Puncak acara pengumuman pemenang itu digelar di Taman Menteng, Jakarta Pusat, akhir Maret lalu.

Di lokasi itu juga digelar pameran berbagai karya abu-abuers dari penjuru Tanah Air yang mengikuti kompetisi Toyota Eco Youth. Pengumuman ini mengakhiri masa penantian selama tujuh bulan, setelah kontes pengolahan limbah sekolah dalam program Toyota Eco Youth digelar.

SMA Semen Gresik membawakan tema ”SMA Semen Gresik Menuju Zero Waste”. Program ini berhasil menyisihkan 29 sekolah lain yang masuk 30 besar. Total pesaing sebenarnya mencapai 300 SMA yang berasal dari 13 kota besar di Indonesia. Penjuriannya dilakukan Yayasan Kirai Indonesia.

Menurut keterangan juri, kemenangan SMA Semen Gresik diraih berkat kemampuan mereka memenuhi kriteria utama penjurian program Toyota Eco Youth 3. Poin kemenangan mereka terletak pada kemampuan mengimplementasikan proyek pengolahan limbah yang baik, dan disosialisasikan kepada semua pihak termasuk masyarakat sekitar sekolah.

Novi Fatmasari dari SMA Semen Gresik mengatakan, banyak program dibuat di sekolahnya. Salah satu di antara yang menjadi andalan adalah replantasi lahan kritis di bekas penambangan semen.

”Kami juga membuat briket dari ranting, buat kompos, biopori, pupuk organik, pupuk cair, pestisida organik, kertas daur ulang, dan masih banyak lagi,” katanya.

Semua kegiatan itu dilakukan lembaga kesiswaan resmi yang berminat pada lingkungan hidup, dan diberi nama Orales. Lembaga Orales dibantu kelompok-kelompok ekstrakurikuler lainnya sehingga terjadi kolaborasi antarlembaga di sekolah itu.

Kepala Sekolah SMA Semen Gresik Setiyo Budi mengawal anak-anak asuhnya hingga Jakarta. Kata Setiyo, pihaknya mengizinkan siswa untuk membuat lembaga kesiswaan yang berbeda. Di SMA Semen Gresik, selain ada lembaga kesiswaan bidang lingkungan hidup yang bernama Orales, juga ada klub jurnalistik, Sakabahari, klub IT, dan pencinta alam. Kesemua lembaga itu kegiatannya saling mendukung.

Makin serius

Apa yang dilakukan para peserta Toyota Eco Youth 3 terlihat semangat untuk makin serius dalam bersikap maupun menghadapi isu lingkungan. Simak kegiatan SMA Semen Gresik di bawah ini yang sudah menjadi kegiatan rutin:


- Adanya larangan pemakaian alat makan dan minum yang sekali pakai, baik untuk siswa maupun kantin.

- Di masing-masing kelas disediakan galon minuman air mineral dan dilarang membawa minuman dalam kemasan plastik.

- Adanya larangan membawa makanan dari luar sekolah yang dikemas dalam bungkus plastik dan botol plastik.

- Mulai menjalankan kegiatan di luar sekolah yang sejalan dengan misi pembelajaran dan penyelamatan lingkungan, di antaranya replantasi lahan kritis di bekas penambangan semen.

- Rutin diadakan lomba kebersihan lingkungan kelas dan kerja bakti.

- Penerapan hukuman pemungutan sampah dan penanaman bibit tanaman bagi siswa yang terlambat masuk sekolah.
- Menyertakan muatan lokal soal lingkungan hidup.

SMAN 8 Pekanbaru sebagai Juara II juga telah memasukkan isu lingkungan hidup sebagai muatan lokal. Kegiatan di sekolah ini melibatkan orangtua dan alumni. SMAN 8 Pekanbaru juga memiliki kegiatan unik, gerakan tanam 1.000 bunga, yang menjadi simbol semua murid berpartisipasi dalam program itu.

Juara III dari SMKN 2 Palembang menitikberatkan pada pengelolaan limbah sekolah menjadi kompos. Sekolah ini mengembangkan empat tempat pembuangan sampah (TPS) yang sudah ada menjadi TPS terpilah sesuai komposisi yang ada. Sampah organik dibuat menjadi kompos, sedangkan sampah non-organik diolah sebagai suvenir.

SMKN 3 Madiun yang meraih Harapan I punya kekhasan program pada pemanfaatan limbah kimia menjadi barang berharga. SMK ini memang sekolah kejuruan kimia, jadi banyak bersentuhan dengan produk kimia yang menghasilkan limbah pula. Sampah kulit buah diubah menjadi sari yang bisa diguna- kan untuk aroma berbagai produk makanan dan minuman. Mereka juga memproduksi pupuk cair dari sisa makanan di kantin.

Juara Harapan II SMAN 6 Banjarmasin juga berkutat pada pengelolaan sampah, di antaranya pemilahan sampah organik dan non-organik. Mereka membuat green house di atas air, atapnya menggunakan bahan dari botol bekas air minum dalam kemasan.

Dari program lingkungan hidup yang dijalankan abu-abuers itu bisa menunjukkan bahwa peran mereka tak boleh dipandang sebelah mata. Sekolah yang didukung kepala sekolah yang melek lingkungan hidup pasti memberi peluang bagi anak didik untuk membentuk kelembagaan lingkungan hidup yang resmi.

sumber : kompas - amir sudikin

Beasiswa Bagi Siswa Miskin SD Diperbanyak

Senin, 15 September 2008 | 19:35 WIB

JAKARTA, SENIN - Pemberian beasiswa bagi siswa miskin di jenjang Sekolah Dasar pada 2009 diperbanyak hingga mencapai 2,2 juta siswa. Peningkatan jumlah penerima beasiswa sekitar tiga kali lipat dari tahun 2008 ini sebagai upaya untuk membuat anak-anak yang rawan putus sekolah karena alasan ekonomi tetap dapat menikmati layanan pendidikan dasar di bangku sekolah.

"Beasiswa ini untuk membantu anak-anak SD dari keluarga miskin supaya tetap bisa bersekolah. Bisa juga siswa yang putus sekolah kembali lagi ke SD," kata Mudjito, Direktur Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar Departemen Pendidikan Nasional, di Jakarta, Senin (15/9).

Menurut Mudjito, bantuan pemerintah pusat untuk wajib belajar 9 tahun seperti bantuan operasional sekolah (BOS) sebenarnya bisa membuat siswa tidak lagi dipusingkan dengan berbagai pungutan di sekolah. Untuk itu, pemerintah daerah harus mendukung dengan tambahan bantuan operasional dari APBD sehingga sekolah gratis bisa terwujud bagi semua siswa.

Pada 2008, alokasi beasiswa bagi siswa miskin jenjang SD senilai Rp 360.000/siswa/tahun diberikan kepada 690.000 siswa di seluruh Indonesia. Beasiswa yang dikirimkan lewat pos langsung kepada siswa itu bisa dipakai untuk biaya personal seperti pembelian baju seragam, alat tulis, buku, atau transportasi.

Adanya kenaikan anggaran pendidikan sebesar 20 persen pada 2009, salah satunya dialokasikan untuk peningkatan beasiswa bagi siswa miskin dari masyarakat umum menjadi 1.796.800 siswa dengan nilai Rp 360.000/siswa/tahun. Selain itu, ada bantuan pendidikan anak PNS golongan I dan II serta Tamtama TNI/POLRI untuk 405.338 siswa sebesar Rp 250.000/siswa/tahun.

Dewi Asih Heryani, Kepala Subdirektorat Kesiswaan Direktorat TK dan SD Depdiknas, menjelaskan beasiswa senilai Rp 748 miliar lebih itu dialokasikan ke semua pemerintah provinsi. Pembagian diprioritaskan untuk anak-anak miskin yang rawan putus sekolah.

Saat ini sebanyak 841.000 siswa SD atau 2,90 persen dari total murid SD/MI sekitar 28,1 juta putus sekolah. Pada akhir 2008 ini ditargetkan tidak ada lagi anak usia SD yang tidak menikmati layanan pendidikan dasar.

sumber: kompas

Wah, Aktif di OSIS Juga Bisa Dapat Beasiswa!

Minggu, 12 April 2009 | 14:27 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Memang, di Prasetiya Mulya Business School, Jakarta, terdapat tiga kategori beasiswa. Pertama, beasiswa prestasi untuk siswa yang lolos tes dengan katagori A. Kedua, beasiswa dari para alumni untuk siswa yang tidak mampu dan ketiga untuk siswa yang berdomisili di luar Jabotabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).

Khusus beasiswa prestasi, Prasetiya Mulya Business School memeruntukkannya bagi para calon mahasiwa yang ikut tes masuk strata sarjana (S-1). Si calon mahasiswa harus lulus dengan nilai kategori A. Nilai nominal beasiswanya cukup besar, mulai 25 hingga 61 juta rupiah untuk perkuliahan pada tahun pertama.

Bukan hanya itu. Beasiswa prestasi tersebut juga tidak tertutup kemungkinan terus bisa dinikmati hingga memasuki tahun ke IV. Hanya syaratnya, si mahasiwa penerima beasiswa bisa mempertahankan nilainya dengan baik.

Sementara itu, beasiswa alumni akan diberikan kepada calon mahasiswa yang tidak mampu. Mereka harus lulus seleksi masuk dengan nilai kategori B. Beasiswa ini akan diberikan secara penuh sampai mahasiswa selesai kuliah. Sekali lagi, syaratnya harus tidak mampu.

Lain halnya dengan beasiswa khusus pelajar yang berdomisili di luar Jabodetabek. Beasiswa ini baru akan digulirkan pada tahun ajaran 2010 mendatang. Syaratnya, calon mahasiswa penerima beasiswa jenis ini bukan hanya berprestasi secara akademis, melainkan juga punya prestasi dan potensi bagus dalam kemampuan kepemimpinan (leadership skill), semisal OSIS atau organisasi kesiswaan lainnya.

Nah, tidak rugi kan aktif di organisasi? Apalagi kesempatannya lumayan besar, karena setiap tahun ajaran baru jumlah penerima beasiswa di kampus ini bisa mencapai 1 - 20 mahasiswa!


Sumber: Kompas Cetak/MUDA

47 Pelajar Cianjur Ikuti Lomba Siswa Berprestasi

Tuesday, 14 April 2009 CIANJUR(SI) – Sedikitnya 47 siswa SD dan SMP se-Kabupaten Cianjur mengikuti perlombaan siswa berprestasi yang dipusatkan di SMPN I Cianjur kemarin.

Selain memperlombakan bidang akademis, juga diperlombakan bidang keterampilan. Kepala Seksi Kesiswaan Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur Ferry Indra Mu’in mengatakan, kegiatan ini rutin digelar menjelang peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei mendatang.

Para siswa perwakilan dari tiap kecamatan ini mengikuti dua bidang perlombaan,yakni bidang akademis (lomba setiap mata pelajaran) dan keterampilan (bakat dan kemampuan siswa). ”Untuk tingkat SD, jumlah peserta tercatat 32 orang, sementara untuk tingkat SMP diikuti 40 siswa berprestasi,”ujarnya kemarin.

Dalam kegiatan itu, dilibatkan pula 18 orang tim penilai yang merupakan pengawas tingkat kabupaten. Untuk tingkat SD, jumlah tim penilai sebanyak 9 orang serta jumlah tim penilai tingkat SMP sebanyak 9 orang. ”Untuk bidang keterampilan,kriteria penilaian difokuskan pada sisi kreativitas dan inovasi peserta dalam memanfaatkan barangbarang yang ada di sekelilingnya menjadi suatu hasil karya seni,” katanya.
sumber : ricky susan

SMPN 2 Palu Raih Setifikat ISO 2001:2008

PALU--MI: SMP Negeri 2 Palu di Sulawesi Tengah (Sulteng) meraih sertifikat ISO 2001:2008 dibidang mutu pendidikan.

Sertifikat ISO itu diserahkan perwakilan PT URS Services Indonesia Prahatiza Wiena kepada Wali Kota Palu Rusdi Mastura di SMPN 2 Palu, Sabtu (21/3).

Wali Kota Palu, Rusdi Mastura menyambut gembira atas keberhasilan SMPN 2 Palu telah meraih ISO 2001:2008.

"Saya selaku pribadi dan atas nama pemerintah dan masyarakat Palu mengucapkan terima kasih kepada SMPN 2 Palu atas keberhasilan tersebut," katanya.

Apalagi, SMPN 2 Palu yang telah menyandang status rintisan sekolah bertaraf internasional sejak dua tahun terakhir ini, merupakan satu-satunya sekolah menengah pertama di Sulteng yang memperoleh sertifikat ISO.

"Saya bangga dan terus mendorong sekolah lain untuk meningkatkan kualitas dan prestasi pendidikan," pinta dia.

Pemerintah, termasuk Pemprov Sulteng dan juga Pemkot Palu akan mendukung dan memberikan perhatian terhadap peningkatan mutu pembelajaran.

Khusus kepada SMPN 2 Palu, wakilikota Mastura meminta terus melalukan inovasi dan kreativtas dalam mempertahankan predikat sebagai sekolah RSBI dan SSN (Sekolah Standar Nasional) dan sekaligus penerima ISO pertama di Sulteng.

Sementara Prahatiza Wiena mengatakan, SMPN 2 Palu merupakan sekolah menengah pertama di wilayah Sulawesi yang berhasil menadapat sertifikat ISO.

Sertifikat ISO sebelumnya juga diterima beberapa sekolah lanjutan atas (SLTA/SMK) di Gorontalo dan Manado.

"Tapi untuk tingkat SMP, baru SMPN 2 Palu (Sulteng) yang mendapat sertifikat ISO," kata dia.

Kepala SMPN 2 Palu, Cipto Lahanto, sesuai hasil penelitian dari tim konsultan dan auditor PT URS Service ISO 2001-2008 yang berpusat di Inggris, sekolah unggulan di Sulteng itu layak untuk mendapatkan sertifikat ISO 2001-2008.

Tim konsultan dan auditor dari PT URS Service ISO yang melakukan penelitian beberapa bulan lalu terdiri atas Yohanes Supandi selaku konsultan dan Rudy Wijaya (auditor). Dua hal yang dinilai meliputipelayanan administrasi, dan segi pendidikan.

Untuk bidang administrasi di bagian TU, unit kerja seperti kurikulum, humas, kesiswaan, sarana dan prasana penunjang, regulasi kultur budaya sekolah, kelengkapan program yang berkaitan dengan administrasi sekaligus pelaksanaan dan evaluasi kinerja dari tiap unit kerja.

Menurut Cipto, keberhasilan ini tentunya bukan semata-mata usaha dari Kepsek, tetapi merupakan prestasi bersama. "Di sini tidak ada usaha perorangan, tetapi usaha bersama," katanya.

Karena itu, ia menyampaikan penghargaan serta ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang terlibat, dan telah bekerja keras sehingga membuahkan hasil yang membanggakan.

"Saya tahu bahwa prestasi ini merupakan hasil kerja keras kita semua dalam mendukung program pembelajaran dan juga tak terlepas dari tertib administrasi dan keuangan," kata Cipto.

Sekolah yang telah mendapat sertifikat ISO harus tetap menjaga dan meningkatkan serta mempertahankan mutu dan kualitas pembelajaran serta kelulusan siswa. Untuk yang sifatnya mijer khusus SMPN 2 Palu tidak ditemukan.

Selaku wakil dari PT URS Service Indonesia ISO 2001-2008 secara resmi hari Rabu (4/2) merekomendasikan SMPN Negeri 2 Palu mendapat sertifikat ISO 2001-2008.

Namun ia mengingatkan posisi WMM staf dan pos-pos yang sudah dibuat sekarang terus diimplementasikan. Artinya bukan setelah audit dianggap sudah selesai. Ini masih awal karena tahun depan dan seterusnya akan ada evaluasi kembali.(Ant/OL-02)

2.27.2009

Pembinaan Kesiswaan Perpaduan Kebijakan dengan Kegiatan

A. Dasar Pemikiran

Pembinaan KesiswaanPembangunan di bidang pendidikan diarahkan kepada pengembangan sumberdaya manusia yang bermutu tinggi, guna memenuhi kebutuhan dan menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Melalui pendidikan, sumberdaya manusia yang bersifat potensi diaktualisasikan hingga optimal; dan seluruh aspek kepribadian dikembangkan secara terpadu.

Sejalan dengan peningkatan mutu sumberdaya manusia, Departemen Pendidikan Nasional terus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama (Direktorat PSMP), Ditjen Mandikdasmen, dalam hal ini telah melakukan berbagai upaya, baik pengembangan mutu pembelajaran, pengadaan sarana dan prasarana, perbaikan manajemen kelembagaan sekolah, maupun pembinaan kegiatan kesiswaan.

Peningkatan mutu pendidikan di sekolah tidak hanya terpaku pada pencapaian aspek akademik, melainkan aspek non-akademik juga; baik penyelenggaraannya dalam bentuk kegiatan kurikuler ataupun ekstra-kurikuler, melalui berbagai program kegiatan yang sistematis dan sistemik. Dengan upaya seperti itu, peserta didik (siswa) diharapkan memperoleh pengalaman belajar yang utuh; hingga seluruh modalitas belajarnya berkembang secara optimal.

Di samping itu, peningkatan mutu diarahkan pula kepada guru sebagai tenaga kependidikan yang berperan sentral dan strategis dalam memfasilitasi perkembangan pribadi peserta didik di sekolah. Peningkatan mutu guru merupakan upaya mediasi dalam rangka pembinaan kesiswaan. Tujuan dari peningkatan mutu guru adalah pengembangan kompetensi dalam layanan pembelajaran, pembimbingan, dan pembinaan kesiswaan secara terintegrasi dan bermutu.

Dengan demikian, dalam pembinaan kesiswaan terlingkup program kegiatan yang langsung melibatkan peserta didik (siswa) sebagai sasaran; ada pula program yang melibatkan guru sebagai mediasi atau sasaran antara (tidak langsung). Namun, sasaran akhir dari kinerja pembinaan kesiswaan adalah perkembangan siswa yang optimal; sesuai dengan karakteristik pribadi, tugas perkembangan, kebutuhan, bakat, minat, dan kreativitasnya.

Layanan Pendidikan yang Bermutu di Sekolah

Layanan Pendidikan

B. Kompetensi Pembina Kesiswaan

Walaupun di sekolah-sekolah telah ada wakil kepala sekolah urusan kesiswaan, akan tetapi sifatnya koordinatif dan administratif. Ia bertugas mewakili kepala sekolah dalam hal memadukan rencana serta mengkoordinasikan penyelenggaraan pembinaan kesiswaan sebagai bagian yang terpadu dari keseluruhan program pendidikan di sekolah.

Pada dasarnya, pembinaan kesiswaan di sekolah merupakan tanggung jawab semua tenaga kependidikan. Guru adalah salah satu tenaga kependidikan yang kerap kali berhadapan dengan peserta didik dalam proses pendidikan. Guru sebagai pendidik bertanggungjawab atas terselenggaranya proses tersebut di sekolah, baik melalui bimbingan, pengajaran, dan atau pelatihan. Seluruh tanggung jawab itu dijalankan dalam upaya memfasilitasi peserta didik agar kompetensi dan seluruh aspek pribadinya berkembang optimal. Apabila guru hanya menjalankan salah satu bagian dari tanggung jawabnya, maka perkembangan peserta didik tidak mungkin optimal. Dengan kata lain, pencapaian hasil pada diri peserta didik yang optimal, mempersyaratkan pelayanan dari guru yang optimal pula.

Oleh karena guru merupakan tenaga kependidikan, maka guru pun bertanggungjawab atas terselenggaranya pembinaan kesiswaan di sekolah secara umum dan secara khusus terpadu dalam setiap mata pelajaran yang menjadi tanggung jawab masing-masing. Dengan demikian, setiap guru sebagai pendidik seyogianya memahami, menguasai, dan menerapkan kompetensi bidang pembinaan kesiswaan.

Dalam kerangka berpikir dan bertindak seperti itulah dikembangkan standar kompetensi guru bidang pembinaan kesiswaan; yang selanjutnya dirinci ke dalam sub-sub kompetensi dan indikator-indikator sebagai rujukan penyelenggaraan pembinaan kesiswaan. Keseluruhan indikator yang diturunkan dari enam kompetensi dasar yang dimaksud dapat dijadikan acuan, baik bagi penyelenggaraan pembinaan kesiswaan secara umum dalam program pendidikan di sekolah; maupun secara khusus terpadu dalam program pembelajaran dan bimbingan yang menjadi tanggung jawab guru mata pelajaran dan guru pembimbing.


Fungsi dan tujuan akhir pembinaan kesiswaan secara umum sama dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional; sebagaimana tercantum dalam Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab II, Pasal 3, yang berbunyi sebagai berikut.

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Adapun secara khusus, pembinaan kesiswaan ditujukan untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik (siswa) melalui penyelenggaraan program bimbingan, pembelajaran, dan atau pelatihan, agar peserta didik dapat mewujudkan kegiatan-kegiatan sebagai berikut.

1.
Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bentuk kegiatannya antara lain: (a) pelaksanaan ibadah yang sesuai dengan ajaran agama masing-masing; (b) kegiatan-kegiatan keagamaan; (c) peringatan hari-hari besar keagamaan; (d) perbuatan amaliyah; (e) bersikap toleran terhadap penganut agama lain; (f) kegiatan seni bernafaskan keagamaan; dan (g) lomba yang bersifat keagamaan.
2.
Kepribadian yang utuh dan budi pekerti yang luhur . Kegiatannya dapat dalam bentuk pelaksanaan: (a) tata tertib sekolah; (b) tata krama dalam kehidupan sekolah; dan (c) sikap hormat terhadap guru, orangtua, sesama siswa, dan lingkungan masyarakat.
3.
Kepemimpinan. Kegiatan kepemimpianan antara lain siswa dapat berperan aktif dalam OSIS, kelompok belajar, kelompok ilmiah, latihan dasar kepemimpinan, forum diskusi, dan sebagainya.
4.
Kreativitas, keterampilan, dan kewirausahaan. Dalam hal ini bentuk kegiatannya, antara lain: (a) keterampilan menciptakan suatu barang menjadi lebih berguna; (b) kreativitas dan keterampilan di bidang elektronika, pertanian/perkebunan, pertukangan kayu dan batu, dan tata laksana rumah tangga (PKK); (c) kerajinan dan keterampilan tangan; (d) koperasi sekolah dan unit produksi; (e) praktik kerja nyata; dan (f) keterampilan baca-tulis.
5.
Kualitas jasmani dan kesehatan. Kegiatannya dapat dalam bentuk: (a) berperilaku hidup sehat di lingkungan sekolah, rumah, dan masyarakat; (b) Usaha Kesehatan Sekolah/UKS; (c) Kantin Sekolah; (d) kesehatan mental; (e) upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba; (f) pencegahan penularan HIV/AIDS; (g) olah raga; (h) Palang Merah Remaja (PMR); (i) Patroli Keamanan Sekolah (PKS); (j) Pembiasaan 5K (keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan); dan (k) peningkatan kemampuan psikososial untuk mengatasi berbagai tantangan hidup.
6.
Seni-Budaya. Kegiatannya dapat dalam bentuk: (a) wawasan keterampilan siswa di bidang seni suara, tari, rupa, musik, drama, photografi, sastra, dan pertunjukan; (b) penyelenggaraan sanggar seni; (c) pementasan/pameran berbagai cabang seni; dan (d) pengenalan dan apresiasi seni-budaya bangsa.
7.
Pendidikan pendahuluan bela negara dan wawasan kebangsaan. Bentuk kegiatannya antara lain: (a) upacara bendera; (b) bhakti sosial/masyarakat; (c) pertukaran pelajar; (d) baris berbaris; (e) peringatan hari besar bersejarah bangsa; (f) wisata siswa (alam, tempat bersejarah); (g) pencinta alam; (h) napak tilas; dan (i) pelestarian lingkungan.



C. Materi Program

Dalam keseluruhan program Direktorat PSMP, program-program pembinaan kesiswaan termasuk kelompok bidang peningkatan mutu. Di dalam kelompok program peningkatan mutu terdapat bagian-bagian atau sub kelompok program yang memayungi program-program pembinaan kesiswaan. Berdasarkan sub kelompok program peningkatan mutu, program-program pembinaan kesiswaan ada yang langsung melibatkan siswa sebagai sasaran kegiatan; ada pula yang melibatkan guru sebagai sasaran tidak langsung (mediasi/sasaran antara). Adapun sub kelompok program pembinaan kesiswaan meliputi sebagai berikut.

1.
Lokakarya Kegiatan Kesiswaan , terdiri dari: (a) Kegiatan yang bersifat akademik; dan (b) Kegiatan non-akademik.
2.
Pengembangan Program Kesiswaan , meliputi pengembangan: (a) klub olah raga siswa; (b) klub bakat, minat, dan kreativitas siswa; (c) etika, tata tertib, dan tata kehidupan sosial di sekolah; dan (d) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
3.
Program Pra-vokasional untuk siswa SMP dinamakan Program Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup Melalui Pendidikan Pra-vokasional.
4.
Program Lomba Kesiswaan , meliputi: (a) International Junior Science Olympiad/IJSO; (b) Olimpiade Sains Nasional untuk Siswa SMP; (c) Lomba Penelitian Ilmiah Pelajar (LPIP); (d) Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Siswa SMP; (e) Lomba Mengarang Dalam Bahasa Indonesia; (f) Lomba Pidato Dalam Bahasa Inggris; dan (g) Lomba Motivasi Belajar Mandiri (Lomojari) untuk Siswa SMP Terbuka.
5.
Pembinaan Lingkungan Sekolah , terdiri dari: (a) Asistensi Pendidikan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba; (b) Program Pembinaan Sekolah Sehat (Lomba Sekolah Sehat/LSS); dan (c) Program Pendidikan Budi Pekerti.

D. Strategi Pelaksanaan

Sesuai dengan tujuan dan karakteristik materi program pembinaan kesiswaan tersebut di atas, maka strategi yang digunakan meliputi pelatihan (terintegrasi dan distrik), lokakarya, kunjungan sekolah (school visit), dan perlombaan/pertandingan (bersifat kompetisi). Penggunaan jenis strategi bersifat fleksibel, dalam arti dapat digunakan satu strategi untuk program tertentu; dan atau beberapa strategi dikombinasikan dalam pelaksanaan satu atau beberapa program, yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pelaksanaan.

Di samping itu, dasar pertimbangan penggunaan suatu strategi mencakup aspek-aspek sebagai berikut: (1) keluasan materi dan sasaran program; (2) waktu dan tempat penyelenggaraan; (3) tenaga pelaksana; dan (4) dana yang tersedia.

Strategi pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi digunakan dalam program pembinaan kesiswaan yang melibatkan sasaran guru atau tenaga pendidikan; dan pelaksanaan pelatihan itu merupakan bagian dari program pelatihan lainnya (program induk) yang serumpun. Dalam hal ini, baik biaya, tenaga pelatih, maupun bahan atau materi pelatihan program pembinaan kesiswaan merupakan bagian dari program induk.

Strategi pelatihan distrik (district training) merupakan bentuk pengembangan kapasitas aparat pendidikan tingkat provinsi, kabupaten-kota, dan atau sekolah yang diselenggarakan di tingkat provinsi tentang program pembinaan kesiswaan tertentu atau program yang serumpun. Tentu saja, biaya, tenaga pelatih, dan bahan atau materi pelatihan berasal dari pusat; sedangkan tempat/lokasi pelatihan dikoordinasikan dengan pihak provinsi.

Strategi lokakarya (workshop) digunakan dalam rangka menghasilkan sesuatu, baik berupa rumusan acuan, rencana kegiatan, pengembangan teknik atau instrumen, maupun kesamaan persepsi, wawasan, dan komitmen untuk kepentingan pelaksanaan program yang terlingkup dalam bidang pembinaan kesiswaan. Lokakarya dapat diselenggarakan secara nasional atau di tingkat pusat; dan dapat pula dibagi menjadi beberapa region penyelenggaraan.

Kunjungan sekolah (school visit) merupakan strategi yang digunakan dalam bentuk kegiatan pemantauan (monitoring), penilaian (evaluasi), pengamatan (observasi), studi kasus, dan atau konsultasi klinis-pengembangan, baik tentang persiapan, pelaksanaan, maupun hasil suatu program pembinaan kesiswaan. Strategi kunjungan sekolah dilaksanakan terutama untuk mempersempit kesenjangan antara kebijakan yang dihasilkan di tingkat pusat dengan pelaksanaan suatu program pembinaan kesiswaan di tingkat sekolah sasaran.

Perlombaan merupakan strategi pelaksanaan program pembinaan kesiswaan yang bersifat kompetitif, melibatkan siswa atau sekolah peserta secara langsung dalam suatu event atau kegiatan, baik yang bertaraf internasional maupun nasional. Strategi perlombaan dapat dilaksanakan sebagai kegiatan tunggal (bukan kegiatan yang dilaksanakan secara bertahap dari tingkat bawah); dapat pula (lazimnya) dilakukan secara bertahap dari tingkat sekolah, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, hingga tingkat nasional ataupun internasional.

E. Evaluasi

Evaluasi perlu dilakukan untuk mengukur kadar efektivitas dan efisiensi setiap program pembinaan kesiswaan. Pada gilirannya, hasil evaluasi dapat dijadikan dasar pertimbangan lahirnya kebijakan tentang tindak lanjut program. Prinsip evaluasi tersebut mengindikasikan bahwa evaluasi seyogianya dilakukan terhadap setiap program pembinaan kesiswaan, baik berkenaan dengan aspek persiapan, pelaksanaan, maupun hasil. Setiap aspek program perlu dievaluasi dengan mempergunakan instrumen yang terandalkan dan petugas evaluasi yang kompeten; sehingga hasil evaluasi dapat dipertanggungjawabkan dan berguna untuk pengambilan keputusan.

F. Pelaporan

Pelaporan setiap program pembinaan kesiswaan didasarkan atas data dan atau informasi yang dihasilkan dari kegiatan evaluasi. Agar keotentikan laporan diperoleh, maka laporan disusun secara komprehensif setelah selesai pelaksanaan suatu program. Pelaporan untuk setiap program pembinaan kesiswaan merupakan bagian dari tugas penanggung-jawab program yang bersangkutan. Format laporan disesuaikan dengan kebutuhan atau panduan masing-masing satuan program. Dengan demikian, pelaporan dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan suatu program. (ditulis oleh : Mamat Supriatna).

Masuk Pukul 6.30, Siswa dan Guru Keberatan Bangun Lebih Pagi

Senin, 24 November 2008 | 17:46 WIB

JAKARTA, SENIN - Sejumlah siswa, staf pengajar dan orang tua siswa mengaku keberatan dengan kebijakan baru Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang memajukan jam masuk sekolah menjadi pukul 06.30 WIB. Bimo Wahyu Prakoso, salah seorang siswa SMU 6 Jakarta Selatan yang ditemui Senin (24/11) mengungkapkan, pemberlakuan jam masuk lebih awal hanya akan mengakibatkan banyak siswa yang telat masuk sekolah.

"Kalau di sini (SMUN 6 Jakarta) itu ada yang namanya telat pulang. Jadi bila siswa telat, maka dia akan dipulangkan oleh bagian keamanan sekolah dan kesiswaan. Mereka dipulangkan dan tercatat ijin," katanya.

Ia menuturkan, saat sekolah masih masuk pukul 07.00 WIB ini saja, masih banyak siswa yang telat datang ke sekolah, apalagi nanti saat jam sekolah harus dimulai lebih awal setengah jam dari biasanya. "Bisa jadi bila peraturan tersebut akan diberlakukan banyak siswa yang akan telat, dan tidak akan masuk sekolah," lanjut siswa kelas III jurusan IPA 1 ini.

Hal senada diungkapkan oleh Nastassya Dean, yang masih satu sekolahan dengan Bimo. Menurutnya, usulan Pemprov harusnya tidak diterapkan kepada siswa saja. "Mestinya bila ingin mengurangi kemacetan di Jakarta itu, jumlah kendaraan saja yang dibatasi. Bukannya sekolah yang harus diberlakukan masuk lebih pagi," katanya.

Dengan pembatasan kendaraan, lanjut Tassya, maka tingkat kemacetan akan dapat ditekan. "Karena menurut saya letak kemacetan itu dikarenakan banyaknya kendaraan yang ada di jalanan di Jakarta. Sekarang saja saya berangkat dari rumah jam setengah enam pagi. Kalau jam sekolah maju setengah jam, saya harus berangkat jam lima pagi dong dari rumah," terangnya.

Senada dengan keberatan para murid, Hamid, guru sejarah yang mengajar di SMU Negeri 6 Jakarta, juga mengaku keberatan dengan kebijakan baru ini. "Biasanya saya berangkat dari rumah di Pamulang, Tangerang pukul 05.30 WIB, dan baru sampai di sekolah pukul 10.00 WIB. Bila nanti jam pelajaran lebih awal, berarti saya juga harus berangkat lebih pagi donk. Dan terus terang saya keberatan dengan itu," ujar Hamid.

Selain itu, bila peraturan tersebut jadi dilaksanakan pada awal Januari 2009 juga disayangkan oleh Hamid. "Peraturan tersebut harusnya dimulai saat tahun ajaran baru, bukan tahun baru. Jadi sebaiknya dilaksanakan pada pertengahan 2009, saat semua siswa dan aktifitas pendidikan mengawali musim belajar mengajar, supaya penyesuaian jadi lebih mudah," sambungnya.

Sementara itu, seorang wali murid mengungkapkan, kebijakan perubahan jam masuk sekolah tidak akan efektif. "Saya rasa memasukkan siswa pukul 06.30 itu kurang tepat, karena kemacetan di Jakarta sudah ada sejak pagi hari. Pukul 06.00 WIB saja jalanan di Palmerah Barat sudah macet, jadi apakah peraturan ini nantinya bakal efektif menekan kemacetan," ungkap Gunawan Cahyono yang anaknya sekolah di SMP Negeri 16 Jakarta.

Makin Serius Makin Peduli Lingkungan

Jumat, 11 April 2008 | 09:26 WIB

Begitu nama tim mereka disebut sebagai Juara I Toyota Eco Youth 3, lima cewek dari SMA Semen Gresik, Gresik, Jawa Timur, langsung berteriak sejadinya. Mereka berhak mendapat hadiah Rp 75 juta... huhuhu mengharukan, menggiurkan, juga bikin iri....

Kelima cewek itu adalah Novi Fatmasari (kelas XI IPA1), Rosa Oktaria (kelas XI IPA1), Rama Ayunastiti (kelas XI IPA5), Astri Ika (kelas XI IPA5), Yudhita (kelas XI IPA4), dan Nurminati (kelas XI IPA4).

”Wow... senang sekali... tak menyangka bisa menang,” kata Novi.

Juara kedua diraih SMAN 8 Pekanbaru yang berhak atas hadiah Rp 45 juta. Juara ketiga diraih SMKN 2 Palembang dengan hadiah Rp 20 juta. Pemenang Harapan I yang hadiahnya Rp 10 juta disabet SMKN 3 Madiun, pemenang Harapan II dengan Rp 7,5 juta diraih SMAN 6 Banjarmasin.

Hadiah itu diberikan untuk membantu pengadaan berbagai peralatan atau fasilitas yang menunjang kegiatan siswa di sekolah.

Puncak acara pengumuman pemenang itu digelar di Taman Menteng, Jakarta Pusat, akhir Maret lalu.

Di lokasi itu juga digelar pameran berbagai karya abu-abuers dari penjuru Tanah Air yang mengikuti kompetisi Toyota Eco Youth. Pengumuman ini mengakhiri masa penantian selama tujuh bulan, setelah kontes pengolahan limbah sekolah dalam program Toyota Eco Youth digelar.

SMA Semen Gresik membawakan tema ”SMA Semen Gresik Menuju Zero Waste”. Program ini berhasil menyisihkan 29 sekolah lain yang masuk 30 besar. Total pesaing sebenarnya mencapai 300 SMA yang berasal dari 13 kota besar di Indonesia. Penjuriannya dilakukan Yayasan Kirai Indonesia.

Menurut keterangan juri, kemenangan SMA Semen Gresik diraih berkat kemampuan mereka memenuhi kriteria utama penjurian program Toyota Eco Youth 3. Poin kemenangan mereka terletak pada kemampuan mengimplementasikan proyek pengolahan limbah yang baik, dan disosialisasikan kepada semua pihak termasuk masyarakat sekitar sekolah.

Novi Fatmasari dari SMA Semen Gresik mengatakan, banyak program dibuat di sekolahnya. Salah satu di antara yang menjadi andalan adalah replantasi lahan kritis di bekas penambangan semen.

”Kami juga membuat briket dari ranting, buat kompos, biopori, pupuk organik, pupuk cair, pestisida organik, kertas daur ulang, dan masih banyak lagi,” katanya.

Semua kegiatan itu dilakukan lembaga kesiswaan resmi yang berminat pada lingkungan hidup, dan diberi nama Orales. Lembaga Orales dibantu kelompok-kelompok ekstrakurikuler lainnya sehingga terjadi kolaborasi antarlembaga di sekolah itu.

Kepala Sekolah SMA Semen Gresik Setiyo Budi mengawal anak-anak asuhnya hingga Jakarta. Kata Setiyo, pihaknya mengizinkan siswa untuk membuat lembaga kesiswaan yang berbeda. Di SMA Semen Gresik, selain ada lembaga kesiswaan bidang lingkungan hidup yang bernama Orales, juga ada klub jurnalistik, Sakabahari, klub IT, dan pencinta alam. Kesemua lembaga itu kegiatannya saling mendukung.

Makin serius

Apa yang dilakukan para peserta Toyota Eco Youth 3 terlihat semangat untuk makin serius dalam bersikap maupun menghadapi isu lingkungan. Simak kegiatan SMA Semen Gresik di bawah ini yang sudah menjadi kegiatan rutin:


- Adanya larangan pemakaian alat makan dan minum yang sekali pakai, baik untuk siswa maupun kantin.

- Di masing-masing kelas disediakan galon minuman air mineral dan dilarang membawa minuman dalam kemasan plastik.

- Adanya larangan membawa makanan dari luar sekolah yang dikemas dalam bungkus plastik dan botol plastik.

- Mulai menjalankan kegiatan di luar sekolah yang sejalan dengan misi pembelajaran dan penyelamatan lingkungan, di antaranya replantasi lahan kritis di bekas penambangan semen.

- Rutin diadakan lomba kebersihan lingkungan kelas dan kerja bakti.

- Penerapan hukuman pemungutan sampah dan penanaman bibit tanaman bagi siswa yang terlambat masuk sekolah.
- Menyertakan muatan lokal soal lingkungan hidup.

SMAN 8 Pekanbaru sebagai Juara II juga telah memasukkan isu lingkungan hidup sebagai muatan lokal. Kegiatan di sekolah ini melibatkan orangtua dan alumni. SMAN 8 Pekanbaru juga memiliki kegiatan unik, gerakan tanam 1.000 bunga, yang menjadi simbol semua murid berpartisipasi dalam program itu.

Juara III dari SMKN 2 Palembang menitikberatkan pada pengelolaan limbah sekolah menjadi kompos. Sekolah ini mengembangkan empat tempat pembuangan sampah (TPS) yang sudah ada menjadi TPS terpilah sesuai komposisi yang ada. Sampah organik dibuat menjadi kompos, sedangkan sampah non-organik diolah sebagai suvenir.

SMKN 3 Madiun yang meraih Harapan I punya kekhasan program pada pemanfaatan limbah kimia menjadi barang berharga. SMK ini memang sekolah kejuruan kimia, jadi banyak bersentuhan dengan produk kimia yang menghasilkan limbah pula. Sampah kulit buah diubah menjadi sari yang bisa diguna- kan untuk aroma berbagai produk makanan dan minuman. Mereka juga memproduksi pupuk cair dari sisa makanan di kantin.

Juara Harapan II SMAN 6 Banjarmasin juga berkutat pada pengelolaan sampah, di antaranya pemilahan sampah organik dan non-organik. Mereka membuat green house di atas air, atapnya menggunakan bahan dari botol bekas air minum dalam kemasan.

Dari program lingkungan hidup yang dijalankan abu-abuers itu bisa menunjukkan bahwa peran mereka tak boleh dipandang sebelah mata. Sekolah yang didukung kepala sekolah yang melek lingkungan hidup pasti memberi peluang bagi anak didik untuk membentuk kelembagaan lingkungan hidup yang resmi. (Amir Sodikin)

2.23.2009

3 Pilar Pembinaan Kesiswaan

Seperti yang pernah ditulis di sini, bahwa sistem pendidikan di Indonesia mengenal dua istilah yaitu Intrakurikuler dan Ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler menekankan proses KBM/pembelajaran di kelas tatap muka dengan berbagai macam metode yang bisa digunakan oleh guru dengan tujuan peserta didik mampu menerima dan memahami materi pelajaran yang disampaikan. Strateginya adalah bagaimana proses pembelajaran bisa aktif, inovatif, kreatif asyik dan menyenangkan.

Sedangkan ekstrakurikuler berorientasi pada pendekatan Discovery Oriented atau Pendekatan yang berorientasi pengembangan potensi pada penemuan-penemuan atau inovasi-inovasi yang di peroleh lapangan yang bertujuan meningkatkan ketrampilan dan kecakapan hidup. Dengan kata lain Pendidikan Pembinaan Kesiswaan mengarahkan dan mengembangkan potensi untuk berwawasan masa depan (Looking forward), memiliki Keteraturan pribadi (self regulation), dan memiliki rasa kepedulian sosial yang baik (Holy social sense) para siswa.

Berwawasan masa depan, maksudnya mendidik para siswa untuk optimis, aktif, dan berfikir positif untuk mampu membina diri menuju kwalitas hidup yang lebih baik. Dalam konteks ini siswa di bina guna mengedepankan sikap rasional daripada emosional.Masa depan yang lebih baik tidak begitu saja datang dari langit tetapi di capai dengan usaha yang serius. Dalam memandang masa depan ada perncanaan yang matang(planing) dan dapat di pehitungkan(calculabilty).Siswa dapat memandang masa depan apa yang diinginkan dan masa depan yang bagaimana yang akan dihadapinya. Kaitan dengan berwawasan masa depan dapat diperhatikan ayat Al-Qur’an berikut, yaitu(Q.2 : 201, Q.93 : 4). Dan diantara mereka ada yang mendoa :”Ya tuhan kami,berilah kami kebaikan di dunia dan di dunia akhirat dan peliharalah kami siksa neraka”(Q.2 : 201). Serta dan sesunggunya akhirat itu lebih baik bagimu dari permulaan.(Q,93 : 4) Memilki keteraturan pribadi(self regulation), maksudnya membina para siswa untuk memiliki kehiupan yang terarah dan terprogram.Para siswa menyadari akan pentingnya perhatian terhadap makna waktu dan tidak membiarkan waktu berlalu tanpa ada manfaat yang diperoleh dan produk positif yang nyata.Self regulation diwujudkan dalam bentuk kemampuan merencanakan dan memanejemen waktu secara cermat dan froposional dan bentik sikap hidup yang benar dan mantap.Dengan Self Regulation diharapkan terbentuk manusia yang terbiasa dan bekerja keras, berprestasi berkompetisi saling berlomba untuk mencapai yang terbaik.Pada akhirnya diharapkan terbentuk sikap hidup yang dalam berbuat atau bekerja bukan karena adanya pengawasan yang eksternal, tetapi karena adanya prinsip dalam keyakinan hidup meberikan dorongan yang kuat pada para siswa untuk memiliki kebiasaan-kebiasaan hidup yang teratur dan terprogram yang pada akhirnya dapat membuat siswa mandiri dan meningkatkan kualitas diri dan kualitas hidupnya.Kaitan dengan pengembangan potensi self regulation dapat diperhatika ayat Al-Qur’an (Q.2 : 148, Q.3 : 114,Q.103 : 1-3).

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya(sendiri) yang ia mengadap kepada-Nya. Maka belomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan. Diman saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu. (Q.2 : 148) dan

Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan bersegerahlah kepada (mengerjakan) perbagai kebajikan: mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. (Q.3 : 114) Serta

  • 1. Demi masa
  • 2. Sesunguhnya manusia itu bener-bener berada dalam kerugian
  • 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran

Kepedulian social (holy social sense),maksudnya membina siswa untuk memiliki rasa keperdulian social yang baik. Siswa diarahkan untuk peduli kepada lingkungan sosialnya. Peduli pada orang-orang disekitarnya dan orang-orang lain untuk sama-sama memperbaiki kualitas hidupnya. Mau membantu orang-orang yang membutuhkannya dan tidak menjadi manusiaindividualis. Dengan holy social sense siswa diarahkan memahami dirinya serta memiliki empati. Memiliki kemampuan untuk merasakan apa yang dialami oleh orang lain dan menangkap sudut pandang orang lain tanpa kehilangan akal sehat. Kaitan dengan pengembangan potensi keperdulian social ini dapat diperhatikan ayat Al-Quran(Q.49 :10) Sesungguhnya orang-orang mumin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antar kedua saudaramu dan bertakwalah Allah supaya kamu mendapatkan rahmat.

Potensi Ke Depan

Pendidikan yang kita laksanakan selam ini sering terjebak pada pelaksanaan yang bersifat content oriented, curriculum oriented, pencapaian tujuan yang lebih bersifat kognitif dan terkompar-temental. Akibatnya arti pendidikan bagi pengembangan potensi manusia atau potensi para siswa akhirnya tidak bersifat komprehensif. Potensi yang dimiliki para siswa tidak dapat di kembangkan dengan baik dan maksimal. Pendidikan tidak dapat mencapai tujuan yang telah dirumuskan dalam undang-undang pendidikan.

Agar pendidikan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki dengan baik di perlukan perhatian yang memadai dan proporsi yang seimbang pada pendidikan yang bersifat intrakulikuler dan ektrakulikuler merupakan solusi dan penyempurnaan penyampaian tujuan yang kurang atau tidak dapat dicapai oleh kegiatan intrakulikuler. Pemberian perhatian dan proposi yang seimbang diharapkan dapat mengembangkan potensi yang di miliki para siswa secara maksimal.

2.10.2009

Makalah Profesi Kependidikan - Manajemen Kesiswaan

Dapatkah anda bayangkan bila segala sesuatu itu berjalan tanpa adanya pengaturan dan peraturan. Sebagai contoh : bumi, bulan, Jupiter, Mars dan segala isi tata surya ini berjalan dan beredar tanpa adanya jalur, atau dapat kita gunakan anologi sederhana apabila seorang anggota masyarakat selalu berbuat sekehendak hatinya tanpa mempertimbangkan perasaan tetangga dan kerabat yang di dekatnya. Dalam dunia industri pun dapat kita ambil contoh apabila suatu perusahaan yang berkaryawan sebanyak 10 orang semuanya adalah pekerja atau supervisor atau manajer, maka bagaimana perusahaan tersebut jadinya? Dalam hal ini diperlukanlah suatu peraturan yang mengatur atau memanajemen guna mencapai tujuan yang dikehendaki bersama.

Dalam dunia pendidikan pun dibutuhkan pengaturan yang sangat teliti. Hal ini digunakan guna mencapai tujuan dari pengadaan sekolah tersebut dan juga tujuan lainnya. Pengaturan dalam dunia pendidikan atau secara sederhana dalam sekolah tentu berbeda dengan pengaturan yang terdapat dalam masyarakat dan dunia industri. Aturan, struktur organisasi, kebutuhan dan manajemen serta tujuan yang digunakan akan disesuaikan dengan keadaan yang diperlukan.

Dalam sekolah terdapat kepala sekolah yang bertindak sebagai Manajer umum, para wakil kepala sekolah sebagai manajer lainnya dan guru sebagai ujung tombak bagian produksi. Sebagai perusahaan (bila dapat kita sebut demikian) penyedia jasa pendidikan sekolah pun memerlukan taktik guna menarik para pelanggannya dalam hal ini adalah para siswa dan wali murid. Setelah mendapatkan kepercayaan dari pelanggan ini (siswa dan wali murid) sekolah harus menjaganya dengan membina para siswa dan memberikan layanan – layanan khusus sampai dengan pembinaan para alumni agar pelanggan tidak lari dan dapat menjadi pemasar (marketing) dari mulut ke mulut atau yang penulis sebut dengan MTM (mouth to mouth).